Luwu Timur Sambut HUT ke-23 dengan Festival dan Hiburan Rakyat

Malili, Bilikf4kta@.id – Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mulai mematangkan rangkaian peringatan Hari Jadi ke-23 melalui rapat strategis yang melibatkan unsur Forkopimda, OPD, hingga pihak swasta. Namun, di balik semangat “inovasi” yang digaungkan, muncul pertanyaan klasik: sejauh mana pembaruan yang dijanjikan benar-benar memberi dampak, bukan sekadar pengulangan agenda tahunan?

Rapat tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Ramadhan Pirade, Kabag OPS Polres Lutim Kompol H. Yusuf, Perwira Penghubung Mayor Arm. Syafaruddin, serta Ketua Panitia yang juga Asisten Pemerintahan dan Kesra, Aini Endis Anrika, bersama jajaran pejabat daerah dan perwakilan event organizer, PLN, serta PT Vale Indonesia.

Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, dalam arahannya menegaskan bahwa konsep perayaan tahun ini masih bertumpu pada pola sebelumnya, dengan tambahan sejumlah kegiatan baru. Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa pemerintah daerah belum sepenuhnya beranjak dari formula lama.

“Rangkaian kegiatan tidak jauh dari tahun sebelumnya, tetapi ada beberapa tambahan item yang akan memperkaya perayaan tahun ini,” ujar Irwan.

Sejumlah agenda yang disiapkan memang terdengar familiar: Liga Pelajar untuk kategori usia U-13 hingga U-17, Festival Sungai Malili, pameran UMKM, hingga Bupati Cup antar kecamatan dan OPD. Di sisi lain, kegiatan seperti lomba perahu naga, road race, fun run, dan lomba catur kembali masuk dalam daftar, seolah menjadi paket wajib setiap perayaan.

Panitia juga menambahkan unsur religius melalui tabligh akbar yang akan menghadirkan dai nasional Das’ad Latif, serta hiburan penutup berupa konser artis. Namun, hingga kini belum ada penjelasan rinci terkait konsep kurasi acara, dampak ekonomi terhadap pelaku UMKM, maupun strategi pengelolaan keramaian yang kerap menjadi tantangan di event berskala besar.

baca juga  Konsultasi ke KemenPU, Pemkab Lutim Matangkan Regulasi Penataan Danau Matano

Tema “Bersama Juara, Bersinergi Membangun Masa Depan” diusung sebagai narasi besar perayaan. Sayangnya, tema ini belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam desain kegiatan yang terukur dan berorientasi jangka panjang. Kegiatan yang ada masih didominasi event seremonial dan hiburan, sementara ruang untuk inovasi berbasis pemberdayaan ekonomi atau penguatan identitas lokal tampak belum digarap maksimal.

Dari sisi jadwal, pelaksanaan kegiatan direncanakan dimulai akhir April, meski secara historis momentum hari jadi jatuh pada Mei. Puncak perayaan bahkan diproyeksikan berlangsung pada Juni, dengan alasan penyesuaian teknis. Keputusan ini berpotensi memunculkan pertanyaan publik terkait konsistensi kalender kegiatan daerah.

Di tengah keterlibatan sejumlah pihak, termasuk BUMN dan perusahaan besar seperti PT Vale Indonesia, transparansi anggaran dan kontribusi masing-masing pihak juga menjadi aspek krusial yang belum banyak diungkap ke publik. Padahal, akuntabilitas menjadi elemen penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan kegiatan berskala daerah.

Perayaan hari jadi sejatinya bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum refleksi dan proyeksi masa depan daerah. Tanpa terobosan yang jelas dan terukur, perayaan ini berisiko menjadi sekadar seremoni yang meriah di permukaan, namun minim substansi bagi pembangunan jangka panjang Luwu Timur. (Put/Red).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *