Di sisi lain, PT Vale juga memperluas portofolio bisnis melalui penjualan bijih nikel saprolit dari blok Bahodopi dan Pomalaa. Sepanjang tahun, total penjualan bijih saprolit mencapai 2,31 juta wet metric ton (wmt), dengan kontribusi terbesar berasal dari blok Bahodopi yang mencatatkan volume lebih dari 2 juta wmt. Sementara itu, penjualan dari blok Pomalaa masih terbatas karena masih dalam tahap bulk sampling test.
Untuk mendukung ekspansi bisnis, perusahaan mengalokasikan belanja modal sebesar 485,9 juta dolar AS sepanjang 2025, meningkat sekitar 46 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 332,1 juta dolar AS. Hingga 31 Desember 2025, posisi kas perusahaan tercatat sebesar 376,3 juta dolar AS.
Sepanjang tahun, perusahaan juga menghadapi sejumlah tantangan operasional, termasuk insiden kebocoran pipa minyak pada Agustus 2025. Selain itu, perusahaan mulai membangun kembali Furnace 3 pada November 2025 yang ditargetkan rampung pada Mei 2026, guna menjaga kapasitas produksi sekaligus meningkatkan aspek keselamatan operasional.
Memasuki 2026, PT Vale akan memfokuskan pengembangan pada proyek pertambangan dan hilirisasi. Salah satu proyek utama berada di Pomalaa yang kini telah mencapai sekitar 60 persen tahap pengembangan tambang. Sementara proyek pengolahan berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) telah mencapai sekitar 50 persen konstruksi dan ditargetkan mencapai penyelesaian mekanis pertama pada kuartal III 2026.
Perusahaan menilai berbagai langkah strategis tersebut akan memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang sekaligus meningkatkan nilai bagi para pemangku kepentingan.(*)








