Jakarta, bilikf4kt@.id – Upaya Pemerintah Kabupaten Luwu Timur untuk mengangkat sektor pariwisata keluar dari stagnasi kini mulai diarahkan lebih sistematis—tidak lagi sebatas promosi, tetapi melalui pendekatan komunikasi strategis ke pusat kekuasaan. Langkah itu tercermin dalam pertemuan informal yang berlangsung di sebuah kafe di Jakarta.
antara jajaran Pemkab Luwu Timur dan Anggota DPR RI, Frederik Kalalembang. Meski dikemas santai, pertemuan tersebut memuat agenda serius: membuka jalur dukungan politik dan anggaran bagi pengembangan pariwisata daerah.
Hadir dalam pertemuan itu Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Luwu Timur, Muhammad Safaat DP, bersama Kepala Bidang KPDP Andi Irfan Saputra serta Fungsional Ahli Hukum Setdakab, Zulkifli. Diskusi berlangsung cair, namun substansinya jelas—menyusun arah pengembangan pariwisata yang lebih terukur dan berdaya saing.
Safaat menegaskan, tanpa sinergi yang kuat antara daerah dan pemerintah pusat, potensi wisata Luwu Timur berisiko hanya menjadi catatan di atas kertas. Ia menilai komunikasi intens dengan wakil rakyat di tingkat nasional merupakan langkah strategis untuk membuka akses terhadap program dan dukungan anggaran.
Salah satu potensi yang disorot adalah Danau Matano. Danau purba tersebut dinilai memiliki daya tarik yang mampu bersaing dengan destinasi unggulan nasional, namun hingga kini belum dikelola secara optimal. Persoalan klasik—mulai dari infrastruktur hingga tata kelola—masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Tak hanya itu, pembenahan kawasan juga menjadi sorotan. Penataan ruang kota, termasuk pengembangan ruang terbuka hijau di sepanjang koridor jalan, dipandang sebagai elemen penting dalam membangun citra daerah. Pariwisata, dalam kerangka ini, tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari wajah kota yang menentukan kesan pertama wisatawan.
“Pariwisata harus ditempatkan sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Jika dikelola dengan tepat, dampaknya langsung terasa pada peningkatan PAD dan terbukanya peluang usaha bagi masyarakat,” ujar Safaat, menegaskan arah kebijakan yang ingin dicapai.
Dari sisi legislatif, Frederik Kalalembang menyambut positif inisiatif tersebut. Ia menilai Luwu Timur memiliki fondasi kuat untuk berkembang sebagai destinasi unggulan, namun menekankan bahwa potensi saja tidak cukup tanpa pembenahan aspek dasar.
Menurutnya, kebersihan lingkungan, ketersediaan fasilitas umum, serta kenyamanan pengunjung adalah prasyarat mutlak. Di era digital, ia juga menyoroti pentingnya konektivitas internet di kawasan wisata, yang kini menjadi alat promosi paling efektif melalui pengalaman langsung wisatawan.
“Rasa aman dan nyaman menjadi kunci. Tanpa itu, wisatawan mungkin datang sekali, tetapi belum tentu kembali,” ujarnya.
Lebih jauh, Frederik mengingatkan bahwa pengembangan pariwisata tidak boleh mengabaikan masyarakat lokal. Keterlibatan pelaku UMKM dinilai krusial dalam menciptakan perputaran ekonomi di sekitar destinasi—mulai dari kuliner, kerajinan, hingga jasa pendukung lainnya.
Pada akhirnya, ia menekankan pentingnya manajemen yang terstruktur, dari tahap perencanaan hingga pengawasan. Tanpa itu, pengembangan pariwisata berisiko berjalan sporadis dan kehilangan arah.
Pertemuan yang tampak sederhana itu, pada kenyataannya, menjadi penanda bahwa Luwu Timur tengah berupaya menggeser pendekatan—dari sekadar mengandalkan potensi, menuju strategi yang lebih terencana, terhubung, dan berorientasi hasil. (Put/Red).







