Bupati Irwan kemudian menginstruksikan kepada Kepala Disdikbud agar dilakukan pengusulan kembali bantuan yang dibatalkan oleh pihak sekolah sehingga persoalan ini dapat teratasi.
Keluhan lain datang dari jenjang sekolah dasar. Kepala SD Negeri 261 Limbua, Amir Hamzah, menyampaikan bahwa jaringan listrik belum masuk ke area sekolahnya. Ia mengaku bahwa kondisi ini mengajarkan guru mengalami kesulitan dalam menerapkan proses digitalisasi pembelajaran.
Selain masalah listrik, Amir juga berharap pemerintah daerah memperhatikan kesejahteraan pendidik melalui peningkatan tunjangan.
Terhadap keluhan tersebut, Bupati berjanji akan menjembatani koordinasi langsung dengan pihak PLN. Ia juga mengoperasionalkan rencana evaluasi insentif bagi tenaga pengajar di kawasan terpencil.
”Pemerintah daerah akan berkoordinasi dengan PLN agar krisis listrik di sekolah segera teratasi. Mengenai Tunjangan Profesi Guru (TPG) dan insentif khusus bagi guru di wilayah terpencil, hal itu tentu menjadi bahan pertimbangan prioritas kami,” jelas Irwan.
Sementara itu dari tingkat SMP, Kepala SMPN 1 Tomoni Timur, Arief, memaparkan masalah ketersediaan sarana belajar. Ia menyebut Ruang Kelas Baru (RKB) di sekolahnya belum dilengkapi fasilitas seperti meja dan kursi, sehingga sebagian siswa terpaksa belajar di lantai.
Merespons kondisi tersebut, Bupati menginstruksikan jajaran Disdikbud untuk bergerak cepat tanpa birokrasi yang berbelit-belit.
”Segera koordinasikan antara Kabid dan Kadis. Saya minta minggu depan fasilitas meja dan kursi sudah terealisasi untuk sekolah yang siswanya masih belajar di lantai,” perintah Irwan.
Rakor Pendidikan ini diharapkan tidak sekadar menjadi agenda formalitas antar kepala sekolah, melainkan menjadi wujud nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam menyelesaikan persoalan pendidikan secara cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan. (fir/ikp-humas/kominfo-sp) (Put/Red)







