Ia juga menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor, baik pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, maupun komunitas, agar konsep pengembangan geopark dapat terwujud secara komprehensif dan berkelanjutan.
“Semoga langkah ini dapat mempercepat terwujudnya Geopark Matano sebagai Geopark Nasional dan menjadi kebanggaan masyarakat Luwu Timur,” pungkas Andi Tabacina.
Turut hadir Plt. Kepala Dinas Parmudora Lutim, Muhammad Safaat DP., Kepala Dinas PMD, Drs. Rapiuddin Tahir, OPD terkait, perwakilan Direktur Eksternal Relation PT Vale Indonesia Tbk, Camat, Pengelola Malili Biodiversity Center (MBC), Ketua IKA Geologi Luwu Timur, serta praktisi Cultural Diversity.
FGD ini menghadirkan narasumber kompeten, di antaranya Deddy Irfan Bachri dari Jeneral Manajemen Pangkep dan Dr. Yadi Mulyadi dari Universitas Hasanuddin.
Melalui FGD ini, diharapkan lahir rumusan bersama yang komprehensif untuk mendukung pengembangan Geopark Matano sebagai destinasi geowisata yang berstandar nasional, sekaligus memperkuat posisi Luwu Timur sebagai daerah yang kaya akan warisan geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati. (Put/Red) (bkr/ikp-humas/kominfo-sp)








