Ia menilai ukuran keberhasilan investasi tidak boleh berhenti pada nilai modal yang masuk atau jumlah perusahaan yang berdiri.
“Jangan hanya hitung berapa rupiah yang masuk. Hitung berapa banyak rakyat yang mendapatkan pekerjaan layak. Hitung berapa banyak UMKM yang tumbuh. Hitung berapa banyak anak muda yang memperoleh keterampilan. Dan hitung berapa besar nilai tambah yang benar-benar tinggal di Luwu Timur,” ujarnya.
Bagi Andika, angka pertumbuhan ekonomi pada akhirnya harus kembali kepada manusia. Sebab di balik setiap angka terdapat petani yang bekerja, nelayan yang melaut, pekerja yang menghidupi keluarga, pemuda yang mencari masa depan, serta masyarakat yang berharap pembangunan tidak sekadar lewat di depan mata.
“Kita tidak ingin Luwu Timur hanya menjadi tempat di mana modal tumbuh. Kita ingin Luwu Timur menjadi tempat di mana manusia juga tumbuh,” katanya.
Karena itu, ia mendorong agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton. Investasi harus membuka ruang bagi tenaga kerja lokal, memperkuat UMKM, membangun kemitraan dengan pelaku usaha daerah, meningkatkan keterampilan, menghadirkan transfer teknologi, sekaligus menjaga lingkungan.
Menurutnya, mendukung investasi tidak berarti menyerahkan masa depan daerah tanpa syarat.
“Kita mendukung investasi, tetapi kita juga harus berani mengawasi. Kita mendukung pembangunan, tetapi kita juga harus berani mengkritik ketika ada yang tidak adil. Karena kritik bukan musuh pembangunan. Kritik adalah cara agar pembangunan tetap berpihak kepada manusia,” tegas Andika.(Bersambung)







