Penelitian ini secara khusus dibidik untuk memetakan tiga poin krusial, yakni konstruksi bahasa dalam lirik, strategi kreatif produsen musik, serta sikap audiens (language attitude) terhadap identitas Timur yang ditampilkan. Melalui fokus tersebut, bahasa tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan modal simbolik yang mendorong nilai ekonomi musik lokal.
“Kami ingin melihat bagaimana bahasa daerah mampu menembus sekat-sekat kultural. Bukan hanya bagaimana produsen mengemasnya sebagai strategi pasar, tetapi juga bagaimana audiens non-Timur mengapresiasi dan menerima identitas tersebut hingga menjadi tren nasional,” ungkapnya.
Untuk membedah fenomena ini, peneliti Pop Culture itu menerapkan pendekatan kualitatif interpretatif dengan perspektif sosiolinguistik. Data dikumpulkan melalui analisis lirik lagu-lagu pop Timur di top chart Spotify, wawancara mendalam dengan produsen musik, hingga wawancara terstruktur mengenai sikap bahasa kepada para pendengar aktif Spotify, baik yang berasal dari latar belakang identitas Timur maupun luar Timur. Seluruh data tersebut kemudian dianalisis secara tematik dan integratif.
Riset ini ditargetkan menghasilkan luaran berupa pola pemetaan sosiolinguistik dan tipologi pemaknaan audiens di platform digital. Selain menjadi kerangka konseptual untuk mekanisme hilirisasi musik lokal, hasil akhir penelitian ini dipastikan akan diterbitkan dalam artikel ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 1–4.
“Hilirisasi musik lokal ini adalah bukti nyata bahwa produk budaya daerah memiliki daya saing industri yang tinggi. Kami berharap luaran riset ini dapat menjadi panduan akademis sekaligus praktis bagi perkembangan industri kreatif berbasis budaya populer digital di Indonesia,” tutupnya.(*)







