Malili, bilikf4kt@.id – Di tengah hangatnya suasana Ramadan, ruang Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Luwu Timur, Selasa (17/3/2026), tidak sekadar menjadi tempat berbuka puasa bersama. Ia menjelma menjadi panggung konsolidasi kepentingan antara pemerintah, korporasi, dan publik yang diam-diam menyimpan tarikan besar masa depan ekonomi daerah.
Irwan Bachri Syam hadir bukan hanya sebagai kepala daerah, tetapi sebagai nakhoda yang sedang mengarahkan kapal investasi agar tidak karam di tengah gelombang kepentingan. Di hadapannya, jajaran pejabat daerah, unsur legislatif, aparat keamanan, hingga manajemen PT Pongkeru Mineral Utama (POMU) duduk dalam satu barisan seolah menegaskan bahwa proyek ini bukan lagi sekadar rencana bisnis, melainkan agenda strategis daerah.
Nama-nama yang hadir mencerminkan bobot pertemuan ini: Kapolres Ario Putranto Tuhu Mangabdi, Wakil Ketua II DPRD Harisah Suharjo, anggota DPRD Firman Udding, hingga Sekda Ramadhan Pirade. Kehadiran mereka bukan seremoni belaka—ini adalah sinyal politik: investasi ini dijaga bersama.

Dalam pidatonya, Irwan tidak berputar-putar. Ia langsung menancapkan narasi besar: POMU adalah bagian dari transformasi pengelolaan tambang pasca inkorporasi aset PT Vale Indonesia meliputi Blok Pongkeru, Bulubalang, dan Lingke. Tiga blok ini bukan sekadar wilayah tambang, tetapi simpul penting dalam peta nikel global yang kini semakin diperebutkan.
“Sekecil dan sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh, sesuai nilai saham daerah, itu akan masuk ke kas daerah,” tegasnya—sebuah pernyataan yang, jika dibaca lebih dalam, adalah janji sekaligus taruhan. Sebab publik tahu, di sektor ekstraktif, janji kesejahteraan kerap berbanding lurus dengan potensi konflik dan kerentanan tata kelola.








