Lebih jauh, pemuda gereja diharapkan hadir sebagai agen perubahan sosial di tengah masyarakat, termasuk melalui inisiatif gerakan sosial berbasis digital, peningkatan literasi teknologi, serta keterlibatan dalam isu lingkungan, pendidikan, dan kemanusiaan.
Yulius juga mengingatkan pentingnya etika bermedia sosial, seperti menghindari penyebaran ujaran kebencian dan menjaga kesantunan dalam komunikasi publik. “Pemuda gereja harus menjadi teladan dalam ruang digital,” tegasnya.
Dalam konteks pembangunan, pemuda gereja didorong untuk memperkuat kolaborasi dan jejaring, baik antarorganisasi pemuda, lintas agama, maupun dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
Selain penguasaan teknologi, penguatan soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, dan manajemen waktu juga dinilai penting agar pemuda tidak terjebak dalam dampak negatif penggunaan teknologi.
Ia menambahkan, pemuda juga perlu memiliki ketahanan mental dalam menghadapi derasnya arus informasi yang berpotensi memicu tekanan psikologis. Keseimbangan antara kehidupan digital dan nyata, serta penguatan spiritual, menjadi kunci.
Dalam kesempatan itu, Camat Tomtim juga menyinggung motto PPGT, “Kader Siap Utus”, ia berpesan agar slogan tersebut tidak berhenti sebagai jargon, tetapi diwujudkan melalui peningkatan kualitas, baik secara organisasi maupun personal.
“Untuk menjadi Kader Siap Utus, PPGT harus mampu meng-upgrade diri serta meningkatkan skill dan kompetensi, sehingga mampu bersaing di dunia luar, bukan hanya di internal organisasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemuda gereja harus mampu menjadi mitra pemerintah yang kritis dan konstruktif, sekaligus berperan aktif dalam mendukung program pembangunan daerah. (ikp-humas/kominfo-sp) (Put/Red).







