Menurut Irwan, keberlanjutan program menjadi bagian penting agar peningkatan kapasitas generasi muda tidak bersifat sesaat. Dengan adanya ruang pembelajaran di daerah, kemampuan yang telah diperoleh peserta dapat terus dikembangkan dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat Luwu Timur.
Pada pelaksanaan Batch I, sebanyak 79 peserta telah melalui proses seleksi sebelum mengikuti pelatihan di Pare. Mereka diproyeksikan menjadi bagian dari generasi muda yang memiliki bekal kompetensi tambahan untuk menghadapi persaingan pendidikan maupun dunia kerja.
Komitmen melanjutkan program juga disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Luwu Timur, Awaluddin Anwar. Ia memastikan Mandalish akan dikembangkan secara bertahap dan tidak berhenti pada Batch I.

“Program ini akan kita lanjutkan. Insyaallah, kita akan kembali memberangkatkan peserta untuk Batch II,” jelas Awaluddin.
Ke depan, kesinambungan antara pelatihan di Pare dan pengembangan Kampung Bahasa di Desa Harapan diharapkan mampu membentuk pola pembelajaran yang lebih terarah. Peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar di luar daerah, tetapi juga memiliki ruang untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan tersebut setelah kembali ke Luwu Timur.
Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak semata-mata bertumpu pada pembangunan fisik. Penguatan kapasitas manusia menjadi investasi yang tidak kalah strategis, terutama untuk mempersiapkan generasi muda Luwu Timur agar mampu mengambil peluang di tengah kebutuhan tenaga kerja yang semakin kompetitif dan terbuka. (Put/Red)







